OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
You are here:
Sumpah Pemuda (Pelestarian Bahasa dan Kebudayaan Daerah Dalam Masyarakat Indonesia). PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh eriawankamil   
Rabu, 28 Oktober 2009 04:53

Tidak dapat dipungkuri bahwa wilayah Nusantara,yang terdiri atas ribuan pulau dan didiami oleh berbagai suku bangsa,memiliki berbagai adat istiadat dan kebudayaan serta kesenian yang berbeda-beda.Namun masyarakat bangsa kita yang beraneka ragam (pluralisme) ini memili cita-cita dan tujuan yang sama, yakni menjunjung tinggi kebudayaan nasional. Sungguh tepat perumusan semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti beraneka ragam tetapi satu juga.Apabila bangsa kita tetap mempertahankan dan mengamalkan semboyan ini, niscaya kesatuan dan persatuan bangsa kita abadi sampai akhir zaman.Y

Yang menjadi masalah sekarang ialah bagaimana membina kebudayaan yang beraneka ragam itu dan selanjutnya upaya apakah yang dapat dilakukan untuk mewariskan kebudayaan itu kepada generasi yang akan dating.Lebih lagi sebagai soko guru dan pendukung kebudayaan-kesenian nasional,kebudayaan daerah itu mempunyai kedudukan yang istimewa. Istimewanya adalah menyuburkan kehidupan kebudayaan-kesenian nasional,ini harus dilakukan demikian rupa sehingga mengarah pada penonjolan kebudayaan daerah tertentu yang dikhawatirkan akan menjurus kepada provinsialisme. Provinsialisme itu sebagai realisasi politik devide et impera pemerintah colonial Belanda dulu,jelas merugikan dan sangat tidak kita harapkan timbulnya lagi di wilayah nusantara.

Salah satu aspek kebudayaan yang kiranya menduduki prioritas pertama untuk dibina, dikembangkan, dan selanjutnya diwariskan ialah bahasa-bahasa daerah. Bagaimanapun kebudayaan daerah terutama bahasa daerah.Bagaimana bahasa daerah sebagai alat komunikasi yang pertama diperoleh anak dalam keluarga dan sebagai petunjuk identitas kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan kehidupannya.

Kebudayaan,kesenian dan bahasa bangsa kita.

Kalau kebudayaan,kesenian sebagai hasil cipta,rasa dan karsa manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup,banyak hal yang dapat dibicarakan. Kebudayaan, kesenian,adapt istiadat dan ilmu pengetahuan adalah hasil-hasil budaya manusia yang harus dipertahankan kehidupannya dan diusahakan petingkatan pengembangannya. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan kepuasan jasmani dan rokhani pemilik dan pemakainya.

Berapa jumlah kebudayaan,kesenian dan bahasa daerah di wilayah Nusantara kita ini ? Boleh jadi kita sulit untuk menghitung secara pasti. Mungkin jumlahnya adalah sebanyak pulau yang ribuan itu. Di antara jumlah yang sekian ini rupanya hanya beberapa yang diwariskan atau diajarkan disekolah.misalnya yang kita ketahui adalah bahasa Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Makasar, yang lainnya yang jumlah pemakainya jauh lebih sedikit, tidak diketahui nasibnya. Jadi ada bahasa yang masih hidup dan  diajarkan di sekolah tetapi ada pula yang hamper mati atau punah. Mengapa hamper mati ? karena bahasa itu jarang atau bahkan tidak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang tidak dipakai tidak akan mengalami perkembangan. Oleh karena itu kemudian akan dilupakan orang.

Bahasa yang sekarang masih hidup juga mengalami ancaman kepunahan apabila pemiliknya dan pemakainya tidak berusaha melestarikan kehidupannya. Kenyataan menunjukan bahwa  karena orang lebih suka menggunakan bahasa lain yang tentunya lebih dominant dan orang lupa pada bahasanya sendiri.Buktinya di dalam masyarakat Sunda,adalah terdapat anak-anak bahkan orang dewasa  dapat dikatagorikan Sunda statistic. Mereka terlahir sebagai orang Sunda,tetapi jarang atau tidak pernah berbahasa Sunda. Ini disebabkan oleh situasi dan kondisi lingkungan ( contohnya di kota besar )yang memaksanya menggunakan bahasa lain. Dalam hal ini tidak hanya orang tua yang lali mebiasakan anak-anaknya menggunakan bahas Sunda (daerah) itu melainkan karena lembaga – lembaga pendidikan dan masyarakat tidak memandang perlu melestarikan bahasa daerah itu.

Bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Sunda,Jawa,Bali,yang memiliki kesusateraan yang tinggi ,memang dapat diperkirakan akan hidup lama. Namun harus diingat bahwa generasi sekarang.Tepatnya kaum remaja, seperi yang terlihat di Jawa Barat ( bahasa Sunda),tampak sekali kesulitan apabila diajak berbahasa Sunda. Mereka sering berbahasa gado-gado, yaitu berbahasa Sunda yang keindonesia-indonesiaan. Mereka kebanyakan hanya menguasai ngoko (ragam bahasa Sunda biasa).Kalaupun menggunakan tatakrama inggil (halus) mereka tidak dapat menggunakan bahas secara benar 

Keadaan di atas dapat dipahami karena mereka lebih banyak dan terbiasa berbahasa Indonesia. Di samping itu mereka tidak dibiasakan berbahasa Sunda secara baik dab benar dirumah. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pemakaian bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah secara berangsur-angsur ditiadakan.

Sebernarnya ini merupakan akibat logis kenyataan sejarah, karena bahasa Indonesia ditonjolkan, bahasa daerah harus rela berkorban untuknya. Namun yang menjadi pertanyaan ialah sejauh mana pengorbanan itu. Haruskah pengorbanan itu dijalanin  sampai mati, sampai bahasa-bahasa daerah itu punah ? Tentulah bukan ini yang kita harapkan.

Perlu disadari bahwa bahasa daerah adalah pendukung kebudayaan daerah dan kebudayaan daerah merupakan pendukung kebudayaan nasional, kesenian daerah, seperti wayang, reog, kacapi suling cianjuran , pupuh, degung, membatik, karawitan Sunda,ketoprak di Jawa dan Arja di Bali, lebih tepat kalau menggunakan bahasa pengantar daerah. Penggunaan bahasa Indonesia dalam upaya mengindonesiakan wayang golek ( sunda),wayang kulit ( Jawa), misalnya dimaksudkan agar segenap penonton yang berasal dari berbagai suku bangsa bangsa dapat mengikuti dan memahami ceritranya.

Di lingkungan rumah tangga  komunikan diantara anggota keluarga dirasakan lebih akrab apabila digunakan bahasa daerah. Di dalam bahasa-bahasa daerah yang mengenal anggah-ungguh,tatakrama Sunda,(speec level),yakni cara berbahasa dengan memperhatikan tatakrama dan kedudukan orang yang diajak bicara,suasana kekeluargaan terhadap orang tua atau orang – orang yang lebih  tua dirasakan  dalam pemakaian anggah –ungguh komunikasi penduduk desa dalam suasana kedaerahan. Suasana kerukunan dan keakraban  mereka akan tampak dalam penggunaan bahasa  daerah ini, dan memang harus diakui bahwa, karena sudah terbiasa sejak kecil, penggunaan bahasa daerah dirasakan mereka lebih komunikatif dan lebih menunjukan keakraban.

Perlu diingat pula bahwa bahasa daerah (Sunda) adalah sarana pengembang dan pelestari kebudayaan dan kesenian daerah. Membina bahasa daerah berarti pula membina kebudayaan daerah. Jadi maju atau mundurnya kebudayaan daerah ditentukan pula oleh maju atau mundurnya penggunaan bahasa daerahnya.

Menghidupkan bahasa daerah ataupun kebudayaan daerah bukan berarti menghembus-hembuskan propinsialisme.Pemunculan Sundanologi yang berpusat di Yayasan Dikdasmen dan Dikti  Pasundan  (UNPAS),misalnya merupakan bukti nyata upaya melestarikan bahasa dan kebudayaan dan kesenian Sunda. Ini bertujuan menciptakan kehidupan kebudayaan yang dinamis dan sanggup menunjang kehidupan kebudayaan kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional Indonesia. Oleh karena itu, timbulnya yayasan semacam itu, yang mungkin bernama Sundanologi, Balinologi,Javanologi, Batakologi,Maduranologi,Padangologi dan sebagainya, patutlah disambut dengan harapan akan lebih suksenya  mempertahankan kehidupan dan meningkatkan serta mengembangkan bahasa dan kebudayaan-kesenian daerah. Karena yayasan semacam ini berada dibawah naungan Departemen Pendidikan Nasional,Departemen Kebudayaan  dan Departemen Parawisata. Kita tidak perlu cemas dan khawatir.(Ditulis Oleh Agus Salimudin, S.Pd, M.Pd; Guru Seni Budaya SMA Negeri 1 Batujajar)

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

LAST_UPDATED2